Tottenham Hotspur resmi menunjuk Igor Tudor sebagai pelatih interim hingga akhir musim 2025-2026. Keputusan ini datang hanya dua hari setelah klub memecat Thomas Frank pada Rabu, 12 Februari 2026. Mantan bek tangguh Kroasia itu kini mengemban misi berat untuk menjauhkan Spurs dari jurang degradasi Premier League.
Tudor mencapai kesepakatan verbal dengan manajemen Tottenham pada Jumat, 13 Februari 2026. Pakar transfer Fabrizio Romano pertama kali mengungkap kabar ini melalui akun media sosialnya. Selain itu, David Ornstein dari The Athletic turut mengonfirmasi bahwa proses negosiasi berjalan sangat cepat dalam kurun waktu 24 jam.
Mengapa Spurs Memilih Tudor
Manajemen Tottenham memilih Tudor karena rekam jejaknya sebagai spesialis penyelamatan klub. Sepanjang kariernya, pelatih berusia 47 tahun ini selalu berhasil memberikan dampak instan setiap kali masuk ke sebuah tim dalam kondisi kritis. Oleh karena itu, profil Tudor sangat cocok dengan kebutuhan mendesak Spurs saat ini.
Vinai Venkatesham selaku CEO Tottenham memimpin langsung proses pencarian pelatih baru. Tim manajemen menginginkan sosok berpengalaman yang mampu langsung mengubah situasi. Mereka juga mempertimbangkan nama Edin Terzic dan Marco Rose sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Tudor.
Sementara itu, Roberto De Zerbi yang baru saja meninggalkan Marseille memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. Kondisi ini membuat opsi pelatih permanen semakin terbatas untuk jangka pendek. Dengan demikian, penunjukan pelatih interim menjadi langkah paling masuk akal bagi Spurs.
Krisis Besar di London Utara
Tottenham tengah mengalami periode terburuk dalam sejarah mereka di Premier League. Klub duduk di peringkat 16 klasemen dengan hanya lima poin di atas zona degradasi. Lebih mengkhawatirkan lagi, Spurs hanya meraih dua kemenangan dari 17 pertandingan liga terakhir mereka.
Thomas Frank meninggalkan catatan menyakitkan selama delapan bulan menjabat. Ia mencatatkan tingkat kemenangan hanya 26,9 persen, rekor terburuk di antara semua manajer Tottenham sepanjang era Premier League. Kekalahan 2-1 di kandang dari Newcastle pada Selasa, 11 Februari 2026, menjadi paku terakhir di peti matinya.
Suporter Spurs sudah kehilangan kesabaran jauh sebelum pemecatan itu terjadi. Mereka menyanyikan lagu sindiran “sacked in the morning” dan meminta Frank pergi setiap pertandingan kandang. Bahkan, fans terang-terangan menyerukan nama Mauricio Pochettino sebagai pengganti.
Daftar Cedera Panjang Memperburuk Situasi
Tudor harus menghadapi daftar cedera yang sangat panjang sejak hari pertama. Sebanyak 11 pemain absen karena cedera saat Frank meninggalkan jabatannya. James Maddison dan Dejan Kulusevski praktis tidak tersedia sepanjang musim ini.
Mohammed Kudus dan Richarlison juga masuk daftar absen di lini depan. Wilson Odobert bahkan baru saja mengalami cedera lutut serius pekan ini. Selain itu, Dominic Solanke yang baru kembali dari cedera pergelangan kaki hanya mencetak dua gol liga sejak pemulihannya.
Cristian Romero sebagai kapten tim juga tidak bisa membantu Tudor dalam waktu dekat. Bek asal Argentina itu sedang menjalani hukuman larangan bermain empat pertandingan setelah menerima kartu merah saat kekalahan 2-0 dari Manchester United pekan lalu. Romero bahkan sempat mengkritik terbuka manajemen Spurs.
Profil Tudor: Sang Pemadam Kebakaran
Igor Tudor lahir pada 16 April 1978 di Split, Kroasia. Sebagai pemain, ia menghabiskan sebagian besar kariernya di Juventus dari 1998 hingga 2007. Ia memenangkan dua gelar Serie A bersama Bianconeri dan memperkuat timnas Kroasia di Piala Dunia 1998 serta 2006.
Setelah pensiun sebagai pemain pada 2008, Tudor memulai karier kepelatihan di Hajduk Split pada 2013. Sejak saat itu, ia sudah menangani 10 klub berbeda dalam 13 tahun terakhir. Rata-rata masa jabatannya di setiap klub hanya 0,74 tahun menurut data Transfermarkt.
Julukan “Mr. Wolf” dan “sang pemadam kebakaran” melekat erat pada sosok Tudor. James Horncastle dari The Athletic menyebut Tudor sebagai orang yang membersihkan kekacauan. Ia selalu masuk ke klub dalam kondisi darurat dan berhasil menyelesaikan misi penyelamatan.
Rekam Jejak Penyelamatan di Italia
Tudor pertama kali membuktikan kemampuan penyelamatannya di Udinese pada April 2018. Saat itu, klub sedang dalam ancaman degradasi dengan catatan 10 kekalahan beruntun. Tudor langsung menghentikan tren negatif itu dan berhasil mempertahankan Udinese di Serie A.
Kemudian pada Maret 2024, Tudor menggantikan Maurizio Sarri di Lazio. Ia mengambil alih tim yang berada di posisi kesembilan setelah lima kekalahan dalam enam pertandingan. Hanya dalam sembilan laga, Tudor meraih lima kemenangan dan hanya satu kekalahan. Hasilnya, Lazio finis di peringkat tujuh dan lolos ke Europa League.
Prestasi paling impresif datang di Juventus pada Maret 2025. Tudor menggantikan Thiago Motta yang gagal membawa Juventus ke zona Liga Champions. Dengan hanya kalah satu dari 11 pertandingan, Tudor berhasil mengamankan posisi keempat dan tiket Liga Champions. Pencapaian ini membuatnya mendapatkan kontrak permanen hingga 2028.
Kegagalan di Juventus Menjadi Catatan
Meski demikian, kontrak permanen di Juventus tidak bertahan lama. Tudor dipecat pada 27 Oktober 2025 setelah delapan pertandingan tanpa kemenangan. Ia hanya bertahan tujuh bulan dan memimpin 24 pertandingan dengan persentase kemenangan sekitar 47 persen.
Kegagalan di Juventus menjadi bahan perdebatan di kalangan suporter Spurs. Banyak yang mempertanyakan apakah Tudor mampu memberikan dampak jangka panjang. Namun, Tottenham sendiri tidak membutuhkan solusi jangka panjang saat ini. Mereka hanya perlu bertahan hingga akhir musim.
Pola karier Tudor memang menunjukkan ketidakmampuan mempertahankan performa dalam durasi panjang. Hajduk Split menjadi satu-satunya klub yang ia tangani selama lebih dari satu musim penuh. Meskipun begitu, kemampuannya memberikan dampak instan tetap tidak bisa dipungkiri.
Formasi 3-4-2-1 Menjadi Senjata Utama
Tudor dikenal sangat setia dengan formasi 3-4-2-1 sepanjang kariernya. Pakar sepak bola Italia Patrick Kendrick memperkirakan Tudor akan langsung menerapkan sistem ini di Tottenham. Formasi tersebut berubah menjadi 5-2-3 saat bertahan, memberikan soliditas ekstra di lini belakang.
Dengan formasi ini, Spurs kemungkinan besar akan menurunkan tiga bek tengah yang terdiri dari Cristian Romero, Radu Dragusin, dan Micky van de Ven. Pedro Porro dan Destiny Udogie akan mengisi posisi wingback. Sementara itu, dua pemain di belakang striker mendapatkan kebebasan bergerak untuk menekan lawan.
Tudor menuntut timnya bermain dengan intensitas tinggi dan pressing agresif di sepertiga akhir lapangan. Ia menerapkan penjagaan ketat man-to-man untuk memaksa lawan melakukan kesalahan. Gaya permainan ini sangat berbeda dari pendekatan Thomas Frank yang dianggap terlalu lambat dan tanpa kreativitas.
Keunggulan Koneksi dengan Pemain Spurs
Tudor memiliki keuntungan besar karena sudah mengenal beberapa pemain Tottenham. Ia pernah bekerja bersama Dejan Kulusevski dan Rodrigo Bentancur saat menjadi asisten Andrea Pirlo di Juventus pada 2020-2021. Selain itu, ia juga menangani Randal Kolo Muani di Juventus musim lalu.
Kemampuan bahasa Tudor juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Ia menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik, jauh lebih fasih dibandingkan Antonio Conte saat melatih Spurs. Mengingat banyak pemain Tottenham yang berasal dari Italia seperti Guglielmo Vicario dan Destiny Udogie, komunikasi seharusnya berjalan lancar.
Patrick Kendrick menekankan bahwa Tudor merupakan sosok yang tegas namun tetap ramah. Di ruang ganti, ia menuntut disiplin tinggi dan tidak mentoleransi sikap santai. Namun, dalam konferensi pers, Tudor selalu menampilkan sisi hangat dan mudah didekati.
Derby London Utara Menjadi Ujian Pertama
Tudor diperkirakan sudah memimpin latihan pada awal pekan depan. Pertandingan pertamanya menjadi sangat krusial karena Spurs akan menjamu Arsenal pada Minggu, 22 Februari 2026 dalam derby London Utara. Laga ini disiarkan langsung oleh Sky Sports.
Arsenal saat ini memimpin klasemen Premier League, sehingga tantangan bagi Tudor sangat berat. Namun, justru pertandingan besar seperti ini bisa menjadi momen kebangkitan bagi Spurs. Tudor sendiri terbiasa menghadapi tekanan tinggi sejak hari pertama di setiap klub barunya.
Skuad Tottenham mendapatkan libur hingga Senin karena tidak bermain di akhir pekan ini setelah tersingkir dari Piala FA. Jeda ini memberikan Tudor waktu berharga untuk memperkenalkan filosofi dan sistem permainannya kepada para pemain.
Target Realistis: Selamat dari Degradasi
Prioritas utama Tudor sangat jelas, yaitu menyelamatkan Tottenham dari ancaman degradasi. Spurs berada di peringkat 16 dengan hanya lima poin di atas zona merah. Situasi ini menjadi mimpi buruk bagi klub yang beberapa musim lalu masih menjadi langganan Liga Champions.
Selain itu, Tottenham masih memiliki tiket babak 16 besar Liga Champions setelah finis keempat di fase liga. Meskipun ekspektasi tidak terlalu tinggi di kompetisi Eropa, Tudor tetap harus mengelola jadwal padat dengan bijak.
Sumber dari ESPN mengungkapkan bahwa Tudor juga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan kontrak permanen. Apabila ia berhasil membawa Spurs melewati krisis dengan gemilang, manajemen akan mempertimbangkan untuk mempertahankannya musim depan. Meski begitu, semua pihak memahami bahwa ini merupakan penunjukan sementara.
Pochettino dan De Zerbi Menunggu di Musim Panas
Tottenham sudah menyiapkan rencana jangka panjang untuk posisi pelatih permanen. Fabrizio Romano menyebut dua kandidat utama, yaitu Mauricio Pochettino dan Roberto De Zerbi. Kedua nama ini menjadi favorit untuk mengambil alih pada musim panas 2026.
Pochettino saat ini menjabat sebagai pelatih timnas Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026. Masa depannya setelah turnamen masih belum jelas, namun ia sangat populer di kalangan suporter Spurs. Pochettino pernah membawa Tottenham ke final Liga Champions 2019 dan dianggap sebagai sosok paling cocok untuk membangun kembali identitas klub.
Roberto De Zerbi baru saja meninggalkan Marseille dan memutuskan untuk beristirahat. Mantan pelatih Brighton ini dikenal dengan gaya permainan menyerang yang atraktif. Selain kedua nama tersebut, Andoni Iraola dari Bournemouth dan Oliver Glasner dari Crystal Palace juga masuk dalam radar Tottenham.
Tantangan Struktural Lebih Dalam
Masalah Tottenham sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar pergantian pelatih. Ange Postecoglou yang pernah menjabat sebelum Frank menilai bahwa klub menciptakan lingkungan ketidakpastian. Kepergian Daniel Levy dari posisi puncak manajemen turut menambah gejolak internal.
Postecoglou juga mempertanyakan arah strategis Tottenham dalam memilih pelatih. Ia menyebut tidak ada benang merah yang jelas di antara daftar manajer yang pernah ditunjuk. Dari Pochettino yang menyerang, ke Mourinho yang pragmatis, lalu Conte yang defensif, kemudian Postecoglou yang menyerang lagi, dan Frank yang mencoba memperbaiki pertahanan.
Tudor kini menjadi pelatih kelima Tottenham sejak kepergian Pochettino pada 2019. Pergantian pelatih yang terlalu sering menunjukkan ketidakstabilan di level manajemen. Namun, dengan status interim, setidaknya Tudor tidak menanggung beban ekspektasi jangka panjang.
Harapan Baru di Tengah Kegelapan
Tudor membawa harapan baru bagi suporter Tottenham yang sudah lelah dengan performa buruk musim ini. Gaya kepelatihannya yang agresif dan penuh intensitas menjanjikan perubahan nyata dari era Frank yang membosankan. Selain itu, keberanian Tudor dalam menerapkan pressing tinggi bisa mengembalikan semangat juang para pemain.
Meskipun demikian, tantangan yang menanti Tudor sangat berat. Daftar cedera panjang, moral tim yang hancur, dan hubungan buruk antara pemain dengan suporter menjadi pekerjaan rumah besar. Tudor harus segera membangun kepercayaan diri skuad sebelum menghadapi Arsenal.
Pada akhirnya, keberhasilan Tudor akan ditentukan oleh kemampuannya menstabilkan hasil dalam waktu singkat. Apabila ia berhasil mengulangi keajaiban yang pernah ia ciptakan di Udinese, Lazio, dan Juventus, maka Tottenham bisa bernafas lega. Namun, jika gagal, maka mimpi buruk degradasi akan semakin nyata bagi salah satu klub terbesar di Inggris ini.